Perkembangan Terakhir Perang Libya – Senin, 22 Maret 2011

Serangan Udara

Selasa, 22 Maret 2011

Momentum pemimpin Libya Moamma Gadhafi telah berhenti dan para pemberontak telah dapat menguasai daerah yang sebelumnya berada di tangan pasukan pemerintah, demikian diungkapkan oleh pejabat Amerika Serikat pada hari Senin.

Gadhafi telah menyerukan gencatan senjata, tetapi pasukan koalisi terus memantau apakah memang gencatan senjata tersebut dilaksanakan atau hanyalah ucapan belaka.

Sebuah juru bicara pasukan oposisi mengatakan bahwa tidak ada gencatan senjata sama sekali, terutama di Misrata, sebuah kota penting sekitar dua jam ke sebelah timur dari Tripoli.

Juru bicara tersebut, yang hanya mau diidentifikasi sebagai Mohamed, mengatakan bahwa kehancuran di sana tidaklah terbayangkan dan Misrata dibombardir secara besar-besaran selama 4 hari belakangan ini oleh pasukan yang setia pada Gadhafi.

“Gadhafi terus berbicara tentang gencatan senjata, namun apa yang terjadi di sini sangatlah bertolak belakang,” kata Mohamed.

Berdasarkan apa yang ia lihat di sebuah rumah sakit, Mohamed mengatakan bahwa sampai dengan hari Senin, jumlah korban tewas di tangan pasukan pro-Gadhafi mencapai 15 orang. Sampai dengan akhir pekan yang lalu, 51 orang tewas karena serangan oleh pasukan pro Gadhafi, kata Mohamed.

Hari Senin malam, stasiun televisi negara melaporkan bahwa Misrata telah berada di tangan pasukan pemerintah dan menyerukan rakyatnya untuk merayakan kemenangan tersebut.

Kepala militer Amerika Serikat di Libya mengatakan pada wartawan bahwa pasukan koalisi telah mencapai hasil yang sangat efektif sampai dengan hari Senin kemarin dalam rangka mendukung resolusi Dewan Keamanan PBB yang ditujukan untuk melindungi warga sipil dari serangan pasukan pro Gadhafi.

Tidak ada pesawat tempur Libya yang terlihat beroperasi sejak operasi militer dilakukan pada akhir pekan yang lalu. Selain itu, serangan udara pasukan koalisi telah menghentikan pasukan darat Libya dari upayanya untuk mendekati benteng timur Benghazi, beberapa bahkan memutar arah menjauhi kota tersebut.

Dalam waktu 24 jam belakangan ini, pasukan gabungan Amerika Serikat dan Inggris telah meluncurkan 12 misil Tomahawk yang ditujukan pada fasilitas komando militer Libya.

Negara-negara yang terlibat dalam pasukan koalisi untuk menjalankan misi larangan terbang di Libya terutama di Benghazi di antaranya adalah Perancis, Spanyol, Italia, Denmark, dan Inggris. Kanada dan Belgia juga baru saja bergabung pada hari Senin kemarin dan dikatakan telah menambahkan kekuatan yang signifikan terhadap pertahanan daerah tersebut.

Kompleks Gadhafi di Tripoli hancur lebur pada hari Senin setelah diserang oleh pasukan koalisi. Hingga saat ini, keberadaan Gadhafi masih belum diketahui. Kompleks tersebut ditenggarai merupakan sebuah fasilitas komando militer Libya, oleh karena itu pasukan koalisi menjadikan sebuah target serangan. Gadhafi sendiri belum menjadi target serangan dan sejauh ini tidak ada rencana untuk menjadikannya target dari pasukan koalisi.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah berulang kali mengatakan bahwa Gadhafi harus turun dari kekuasaan namun juga menyadari bahwa misi militer yang dibebankan pada pasukan koalisi hanya terbatas pada melindungi warga sipil yang tidak bersalah. Obama mengatakan bahwa cara-cara yang telah dilakukannya seperti dengan membekukan aset Libya senilai milyaran dolar diharapkan mampu membantu rakyat Libya memaksa Gadhafi turun dari kekuasaannya.

Di tengah suksesnya serangan pasukan koalisi, tidak semua negara mendukung serangan ini. Pemerintah Rusia mengatakan bahwa misi ini justru telah membunuh warga sipil dan mendorong agar pasukan koalisi lebih berhati-hati. India, Cina, dan Venezuela justru menentan aksi serangan udara ini. SekJen PBB Ban Ki-moon mengatakan bahwa dukungan dari pemimpin negara-negara Arab merupakan kunci dari keputusan DK PBB untuk mengambil keputusan larangan terbang. Sekretaris Jenderal Liga Arab mengatakan bahwa walaupun Liga Arab mendukung zona larangan terbang, namun tidak berarti bahwa seluruh negara Arab akan berpartisipasi.

Yussuf bin Alawi bin Abdullah, menteri luar negeri Oman, mengatakan bahwa para anggota Liga Arab telah setuju untuk mendukung zona larangan terbang, walaupun tidak mendukung terhadap intervensi militer yang mungkin terjadi.

Pemerintah Libya telah mengatakan bahwa 48 orang, terutama wanita, anak-anak, dan pemuka agama telah tewas dalam serangan sekutu. Namun, wakil admiral militer Amerika Serikat Bill Gortney mengatakan bahwa tidak ada indikasi jatuhnya korban dari pihak sipil.

Perancis, yang melakukan serangan pertama di Libya dengan menyerang kendaraan militer dengan jet tempurnya juga menyangkal adanya korban tewas dari pihak sipil.

Sumber: CNN.com

PrintFriendlyShare
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply