Sebuah demonstrasi besar-besaran melawan pemerintah Yaman berubah menjadi arena pembantaian pada hari Jumat. Penembak jitu menembaki para demonstran dari atap dan polisi membuat dinding api dengan membakar ban, memblokir jalan-jalan untuk keluar.
Setidaknya 46 orang tewas, termasuk beberapa orang anak-anak, dalam sebuah serangan yang menandai level baru dalam kebrutalan pemerintahan Presiden Ali Abdulla Saleh. Paramedis dan saksi mata mengatakan ratusan orang mengalami luka-luka.
Saleh berusaha mempertahankan 32 tahun kedudukannya sebagai presiden di negara ini. Ia mengatakan bahwa telah jatuh korban jiwa dalam bentrokan antara demonstran dan warga sipil lainnya dalam sebuah demonstrasi di Universitas Sanaa.
“Saya menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas apa yang terjadi hari ini, setelah sholat Jumat di kompleks universitas,” demikian disampaikan Saleh kepada pers di Sanaa, sambil menyalahkan orang-orang bersenjata di antara para demonstran atas kekerasan yang terjadi.
“Polisi tidak ada pada saat kejadian dan tidak melepaskan tembakan,” lanjutnya. “Oleh sebab itu, sudah jelas bahwa ada orang-orang bersenjata di dalam tenda dan merekalah yang melepaskan tembakan.”
Meningkatnya kekerasan yang terjadi menandakan bahwa Saleh menjadi semakin ketakutan bahwa demonstrasi jalanan yang terjadi pada beberapa bulan belakangan ini dapat menggoyahkan kedudukannya. Amerika Serikat, yang telah lama mempercayai Saleh dalam perang melawan terorisme, mengutuk kekerasan yang terjadi.
Namun pertumpahan darah ini tidak berhasil menggoyahkan para demonstran dari kegiatan mereka. Berjam-jam setelah penembakan, ribuan demonstran tetap melakukan demonstrasi, banyak di antara mereka yang melemparkan batu pada aparat kepolisian, dan bertahan dari tembakan dan gas air mata.
Mereka merangsek masuk ke beberapa gedung di mana penembak jitu berada, dan menarik keluar 10 orang, termasuk beberapa yang mereka tuduh sebagai penjahat bayaran. Mereka mengatakan bahwa orang-orang tersebut akan diserahkan kepada pihak berwajib.
Protes di Sanaa melibatkan puluhan ribu orang, sebuah angka yang paling besar yang pernah terjadi dalam protes di Yaman. Sebuah helikopter militer terbang rendah di lapangan ketika para demonstran baru saja menyelesaikan ibadah sholat Jumat.
Tidak lama kemudian, terdengar bunyi tembakan dari atap dan rumah, menyebabkan kerumunan massa lari dalam kepanikan. Lusinan orang tertembak dan jatuh ke tanah. Seorang laki-laki lari meminta pertolongan sambil membawa seorang anak laki-laki yang tertembak di kepala.
Banyak dari korban tertembak di kepala dan leher, tubuh mereka tergeletak di tanah atau dibawa oleh demonstran lainnya yang berusaha sebisa mungkin untuk menghentikan pendarahan.
Polisi membakar ban untuk mencegah demonstran melarikan diri menuju lokasi yang sensitif seperti kediaman presiden.
“Ini merupakan sebuah pembantaian,” demikian ucap Mohammad al-Sabri, pembicara kelompok oposisi. “Ini merupakan sebuah rencana jahat untuk membunuh para demonstran, dan presiden serta keluarganya bertanggung jawab atas pertumpahan darah yang terjadi di Yaman hari ini.”
Para saksi mata mengatakan bahwa penembak jitu mengenakan seragam berwarna krem, yang merupakan seragam pasukan elit Yaman dan sisanya adalah petugas keamanan berpakaian safari. Namun dalam konferensi persnya, Presiden Saleh membantah bahwa pasukan pemerintah terlibat dalam hal ini, dan mengklaim bahwa penduduk setempat yang marah akan semakin meluasnya demonstrasi telah melepaskan temabkan. Dia lalu membentuk tim khusus untuk menyelidiki hal ini.
Dokter di rumah sakit darurat di sekitar lokasi demonstrasi mengatakan bahwa setidaknya 46 orang tewas, tiga di antaranya adalah anak-anak. Mereka berbicara secara anonim karena mereka tidak diizinkan untuk berbicara kepada media.
Seorang jurnalis foto bernama Jamal al-Sharaabi merupakan salah satu korban tewas. Dia adalah jurnalis pertama yang tewas dalam konflik ini.
Menteri Dalam Negeri Jenderal Mouthar al-Masri, yang bertanggung jawab atas pasukan keamanan domestik, mengatakan korban tewas 25 orang dan luka-luka 200 orang.
Kelompok oposisi di Yaman mengadakan rapat darurat pada hari Jumat, di mana mereka mengajak seluruh warga Yaman untuk bergabung dalam aksi damai mereka. Kelompok ini mengutuk kekerasan yang terjadi, yang mereka klaim sebagai aksi yang diperintahkan oleh Saleh. Mereka juga meminta komunitas internasional dan Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tanggung jawab moral dan politik untuk melindungi warga sipil.
Amerika Serikat, yang mendukung pemerintah Yaman dengan bantuan militer senilai US$ 250 juta pada tahun ini untuk memberantas salah satu sel al-Qaida, mengutuk penyerangan terhadap para demonstran.
“Mereka yang bersalah atas kekerasan yang terjadi hari ini harus diadili,” demikian diucapkan oleh Presiden Barack Obama. Dia menelepon Saleh untuk mendukung komitmen Saleh untuk mengizinkan aksi damai.
Namun demikian, Saleh mengadakan status kejadian darurat selama 30 hari yang mengizinkan pasukan keamanannya bertindak untuk lebih leluasa. Status ini melarang warga sipil untuk membawa dan menggunakan senjata.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon merasa sangat terganggu dengan aksi ini, demikian menurut juru bicaranya, Martin Nesirky. Dia menekankan kembali bahwa Yaman perlu menjaga dan menjamin keamanan para warga sipil.
Para demonstran menuntut lapangan pekerjaan, kebebasan politik yang lebih besar, dan berakhirnya aksi korupsi pemerintah.
Dalam menyikapi kejadian ini, Menteri Pariwisata Nabil al-Faqih mengundurkan diri dari jajaran kabinet sebagai bentuk protes atas pembantaian yang terjadi.
“Setidaknya ini yang dapat saya lakukan,” demikian katanya. Al-Faqih adalah menteri kedua yang mengundurkan diri dari jajaran kabinet Saleh.
Selama konflik ini, petugas keamanan dan pendukung pemerintah menggunakan senjata api, peluru karet, gas air mata, tongkat, pisau, dan batu dalam melawan para demonstran, yang baru berkembang di Sanaa dan di banyak kota lainnya di seputar negara ini. Para demonstran mengatakan bahwa mereka tidak akan berhenti sampai Saleh mengundurkan diri dan telah menolak tawaran untuk berunding.
“Mereka mau menakut-nakuti dan meneror kami. Mereka mau menyeret kami ke lingkaran kekerasan, untuk menjadikan revolusi ini sia-sia,” demikian kata Jamal Anaam, 40 tahun, seorang aktivis yang berkemah di lokasi demonstrasi.
Dia mengatakan bahwa kelompok penentang pemerintah tidak akan meniru kejadian di Libya yang menggunakan senjata melawan Kol. Moammar Gadhafi. “Mereka mau mengulangi kejadian di Libya, tapi kami tidak bersedia untuk dibawa kepada kekerasan, apapun yang terjadi.”
Kekerasan yang terjadi pada hari Jumat menunjukkan bahwa Saleh dan keluarganya semakin khawatir akan kehilangan kekuasaan, demikian ucap Gregory Johnsen, seorang ahli tentang Yaman di Princeton University.
“Dia telah berkuasa selama lebih dari 30 tahun dan dia kembali pada apa yang dia benar-benar kuasai, yakni metode kekerasan.”
Namun demikian, ia memperkirakan bahwa taktik ini tidaklah akan berhasil.
Sumber: msnbc.com

March 19th, 2011
Smokie 
Posted in
Tags: 

