
G di sini cuma ingin mengamati sebenarnya apa pengaruh Cikapundung dan bagaimana hubungannya dengan alam saat ini.. Maka dari itu g akan menyertakan fakta dan opini (yang cenderung akan g beri font berwarna merah)
Sungai Cikapundung yang merupakan sungai yang membentang utara-selatan kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia merupakan sungai yang dulunya cenderung tercemar oleh sampah rumah tangga serta sampah bangunan (brangkal) dari masyarakat sekitar.. Sekarang ini, Sungai Cikapundung yang mempunyai hulu sungai di daerah Dago Bengkok yang membentuk air terjun (curug) dan menurun hingga Asia Afrika.. Dahulunya, hingga sekitar tahun 2005an mungkin, sungai Cikapundung berisikan sampah-sampah rumah tangga (sampah yang diplastikin dan dilempar begitu saja ke sungai).. Siapa yang salah tergantung dilihatnya dari sudut pandang mana.. Di satu sisi warga yang membuang sampah salah karena jelas2 membuang sampah sembarangan, tapi di lain hal pemerintah juga cenderung salah karena sama sekali tidak menyediakan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang layak atau terjangkau bagi masyarakat. Di sini memang bukan maksudnya TPS harusnya ada di mana2 tetapi melainkan sebuah sistem di mana sampah dapat teratur ditempatkan di satu tempat tanpa mengganggu warga maupun lingkungannya..
Selain dari sampah, polusi yang timbul di sungai Cikapundung ini pun berasal juga dari para warga yang membutuhkan MCK (Mandi Cuci Kakus) melangsungkan kegiatannya sehingga segala polusi yang seharusnya diproses terlebih dahulu langsung terbuang ke alam, contohnya seperti detergen yang memerlukan waktu untuk terurai.
Dari sisi lingkungannya, saya mengambil 3 contoh dari aliran sungai Cikapundung (DAS) yaitu dari daerah hulu (Curug Dago), daerah pertengahan kota Bandung (Asia Afrika – Cikapundung Barat), dan sedikit lebih ke selatan lagi yaitu daerah (Mohamad Ramdan – Ancol).. Memang pada dasarnya sungai Cikapundung ini cenderung dibersihkan oleh pemerintah kota dan para relawan yang menurut saya motifnya merupakan cenderung ada yang mungkin sadar lingkungan, sementara dicampur dengan motif Bandung Tempo Doeloe (dilihat dari motif Mayor kota Bandung Dada Rosada). Seperti halnya artikel yang disertakan bahwa TNI serta Polri pun ikut membersihkan sungai yang merupakan cenderung paksaan karena halnya mereka PNS dan belum tentu dari hati mereka terdalam.. Tapi memang kalau tidak begini tidak akan ada yang namanya sungai menjadi bersih..
Sekarang kalau dihubungkan dengan alamnya, setiap sungai otomatis memiliki yang namanya biota kehidupannya yang cenderung berkembang karena adanya evolusi.. Dengan kiap maraknya diperkenalkan ikan, tumbuhan air, dan sebangsanya dari daerah lain ke Indonesia, maka ada yang namanya “alien” species yang sebenarnya dapat menghancurkan ekosistem dimana species alien tersebut dapat mengganggu populasi endemik dari species makhluk air tertentu. Kontradiktifnya, pemerintah kota yang mengharapkannya ada biota di sungai Cikapundung mulai memasukkan beberapa species ikan yang justru sebenarnya adalah alien bagi endemik sungai Cikapundung. Seperti halnya ikan mas (Cyprinus carpio) yang asalnya dari Eropa dan Asia Barat.. Memang cenderung hal seperti ini bukan salah dari pemerintah, tetapi seperti halnya semenjak kolonialisme Indonesia yang memperkenalkan juga impun/cere (Gambussia affinis) untuk memakan jentik nyamuk yang beredar di perairan..
Sungai Cikapundung Hulu – Curug Dago


Cenderung karena sedang musim hujam juga, otomatis sedimentasi bertambah terutama daerah aliran utama yang debitnya paling besar di hulu ini. Tempat yang juga merupakan peninggalan bersejarah karena peninggalan prasasti tanda tangan oleh Raja Chulalongkorn (Rama V) pada tahun 1901 serta oleh anaknya Raja Prajadhipok (Rama VII).. Terlihat juga saat pengambilan gambar di daerah sana sampah masih ada walau cenderung cukup minim berupa karung dan beberapa plastik serta orang yang mencoba memancing ikan di sana.. Dari daerah lokasi, memang cenderung bau airnya tidak tampak berpolusi seperti halnya 2 daerah yang g ambil contohnya juga. Dari daerah lokasi ini, yang saya perhatikan juga adalah banyaknya moss (Vesicularia montagnei) yang menempel pada daerah batu2an mulai hilang.. Padahal sekitar 2 tahun yang lalu saat saya pergi ke Curug Dago ini cenderung masih banyak..
Berikut adalah Parameter air sungai Cikapundung di daerah hulu ini.
pH: 6.8
kh: 0
GH: 5
NO2: 0.5 ppm
NO3: 10 ppm
Untuk foto2 lebih banyak dapat dilihat di sini
Sungai Cikapundung – Asia Afrika

Tempat yang sebenarnya secara tidak langsung berdepanan dengan PLN (Pembangkit Listrik Negara) yang cenderung membutuhkan sumber air sungai untuk membentuk daya listriknya itu dahulu pernah dikritik dikarenakan menjadi salah satu posisi sungai Cikapundung yang terkotor (maaf tidak bisa menemukan referensinya).. Selain itu, tempat ini pun berseberangan dengan Gedung Merdeka yang merupakan tempat Konferensi Asia Afrika yang kebetulan juga pada tahun 2004 silam merayakan konferensinya yang ke-50 sehingga saat itu bagian dari sungai ini sangat dibersihkan total agar tidak memalukan negara.. Seperi konyol karena agar tidak memalukan negara tapi saat Tunza September 2011 silam tembok jalan Tamansari masih roboh, lalu juga mendadak memaksakan menanam tanaman yang setengah hidup dan sekarat serta sedikit mengganti pagar yang sudah compang camping dengan yang terlihat baru.. Maka dari itu g merasakan motif berawalnya pembersihan Cikapundung juga berawal dari sana..
Di lokasi ini, g menemukan kehidupan berupa banyak anak-anak (burayak) impun (Gambussia affinis) yang suka berenang di pinggir pinggir sungai karena airnya yang lebih tenang.. Selain juga lebih bersih sedimentasi tanahnya karena tidak melekat dengan air akibat arusnya, di daerah ini cenderung lebih mulai berbau polusi rumah tangga karena telah melewati beberapa titik perumahan di kota Bandung.. Dan lain halnya juga, sampah-sampah mulai banyak seperti halnya ditemukan popok di pinggir sungai yang menurut saya ada yang membuang popok anaknya di sana untuk dicebokin dan mungkin mandi di sana.. Terlihat juga ada beberapa orang yang memancing di daerah ini..
Berikut adalah Parameter air sungai Cikapundung di daerah hulu ini.
pH: 7.2
kh: 2
GH: 7
NO2: 2 ppm
NO3: 25 ppm
Untuk foto2 lebih banyak dapat dilihat di sini
Sungai Cikapundung – Ancol

Daerah yang dulunya terkenal dengan pasarnya ini merupakan titik yang seharusnya paling penuh dengan sampah dikarenakan pasar selalu cenderung membuang sampah ke sungai terutama karena daerah yang sempit dan juga sampah pasar tradisional yang membludak.. Sekitar tahun 2010an, pasar ini diperbaharui menjadi lebih modern berupa gedung yang mungkin akan dibuka dalam waktu tidak lama lagi.. Walau begitu, daerah situ tetap saja menjadi daerah TPS yang diperuntukan bagi perumahan daerah sana.. Konyolnya lagi, tepat di atas sungainya tersebut terdapat TPS yang sampahnya cukup membludak. Jelas aja sampahnya bakal berjatuhan lagi ke sungai.. Selain juga terdapat penduduk di daerah atas sungai yang bertempat tinggal ilegal di sana akan melakukan aktivitasnya pun di sungai Cikapundung ini..
pH: 7.4
kh: 3
GH: 5
NO2: 2 ppm
NO3: 25 ppm
Untuk foto2 lebih banyak dapat dilihat di sini

January 8th, 2012
Porink 





















